Sahabat HD dan semua
pembaca, postingan kali ini atas permintaan dari salah seorang dari rekan kita
dan juga sebagai renungan bahwa untuk menjalani kehidupan ini kita perlu enjoy
dan selalu ceria dan bahagia agar tidak stres menghadapi kehidupan ini yang
sebenarnya tidak berat tapi dibuat berat oleh diri kita sendiri.
Tapi perlu diingat
bahwa humoran dan candaan religi ini diinisbatkan kepada Rasulullah dan
para sufi sehingga humor ini mengandung
kebenaran dan bukan dusta dan tidak ada menghina atau mencela orang lain dan
tidak menyinggung orang yang diajak bercanda sehingga tentu berbeda dengan lawakan sekarang ini
yang penuh dengan ejekan, kadang hinaan dan menyinggung perasaan. Sehingga tak
jarang kita lihat perkelahian atau pembunuhan diakibatkan candaan yang
sepertinya sepele dan berakhir malapetaka.
Karena itu ingatlah
kalau anda membuat humor atau bercanda jangan mengandung kebohongan dan jangan
menghina orang lain.
Berikut ini
humor-humor ala Rasulullah dan para sufi yang saya kutip dari beberapa sumber.
1. Humor Ali Makan Kurma
Suatu hari
Rasulullah bersama Ali dan sahabat yang lain sedang makan kurma bersama-sama.
Pada saat makan kurma itu biji kurma bekas Ali diletakkan di depan Rasul.
Ketika hampir
selesai Ali berkata “Ya, Rasulullah kelihatan engkau sangat lapar karena makan
kurma begitu banyak, lihat biji kurma itu banyak di depan engkau".
Kemudian rasulullah
menjawab,”Bukannya engkau yang sangat lapar karena makan kurma bersama
biji-bijinya”, “Lihat tidak ada biji kurma di depan mu”?
2. Kurma dan Sakit Mata
Suatu saat Ali sakit
mata dan duduk bersama Rasulullah.
Kemudian datang
sahabat lain membawa kurma untuk mereka santap.
Kemudian Mereka
asyik makan kurma. Ketika makan rasulullah berkata kepada Ali.“Mengapa kamu
makan kurma sedang matamu sakit?”
Kemudian Ali spontan
menjawab “ya rasulullah saya makan dengan sebelah mata saya yang masih sehat?”
mendengar jawaban Ali Rasulullah pun tersenyum lebar.
3. Keledai Timur Lenk
Timur Lenk
menghadiahi Nasrudin Hoja seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang
hati.
Tetapi Timur Lenk
berkata, "Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali
ke mari, dan kita lihat hasilnya!"
Nasrudin berlalu,
dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana.
Tanpa banyak bicara, Timur Lenk
menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan
membuka sampulnya.
Si keledai menatap
buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus
menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si
keledai menatap Nasrudin.
"Demikianlah,"
kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."
Timur Lenk mulai
menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca?"
Nasrudin berkisah,
"Sesampai di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan
aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar
membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia
terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."
"Tapi,"
tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya
?"
Nasrudin menjawab,
"Memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman
tanpa mengerti isinya.
Sama halnya dengan
orang yang membaca cerita ini,namun tidak mampu menggali maknanya atau membuka-buka
buku tanpa mengerti isinya, maka disebut setolol keledai, bukan?"
Cerita humor renungan
lainnya :renungan-sufi

No comments:
Post a Comment