Teori Kebutuhan
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,
"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."
Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."
Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."
Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"
Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"
Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."
Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."
Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."
Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."
Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"
Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"
Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."
Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
##############
Banyak orang yang baik tapi tak berakal.
Ada orang yang berakal tapi tak beriman.
Ada yang lidahnya fasih tapi berhati lalai.
Ada orang yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian.
Ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi.....
Ada orang yang berakal tapi tak beriman.
Ada yang lidahnya fasih tapi berhati lalai.
Ada orang yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian.
Ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi.....
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat.
Ada yang menangis karena kufur nikmat.
Murah senyum tapi hatinya mengumpat.
Berhati tulus tapi rautnya cemberut.
Berlisan bijak tapi tak memberi teladan.
Ada ahli maksiat yang tampil jadi figur.
Ada yang menangis karena kufur nikmat.
Murah senyum tapi hatinya mengumpat.
Berhati tulus tapi rautnya cemberut.
Berlisan bijak tapi tak memberi teladan.
Ada ahli maksiat yang tampil jadi figur.
Ada orang yang punya ilmu tapi tak paham.
Paham tapi tak menjalankan.
Pintar tapi membodohi.
Bodoh tapi tak tahu diri.
Beragama tapi tak berakhlak.
Berakhlak tapi tak ber-Tuhan.
Paham tapi tak menjalankan.
Pintar tapi membodohi.
Bodoh tapi tak tahu diri.
Beragama tapi tak berakhlak.
Berakhlak tapi tak ber-Tuhan.
Lalu di antara semua itu, dimanakah kita berada ??
(Ali bin Abi Thalib)
(Ali bin Abi Thalib)
No comments:
Post a Comment