Kisah...Nyata atau kah fiktif..... tdk masalah Bacalah lalu ambil pelajaran
berharga drinya !
plus siapin tissue…( untuk apa ea ntilah …. )
plus siapin tissue…( untuk apa ea ntilah …. )
Seusai sholat subuh aku
dikejutkan oleh berita dari Bunda
“ Ari, Nenek masuk Rumah Sakit. Bunda harus datang menengoknya.“
“ Ari, Nenek masuk Rumah Sakit. Bunda harus datang menengoknya.“
Kulihat wajah bunda nampak
sedih.
Tentu aku harus mendampingi
bunda karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta tapi Sumatera.
Sementara aku hampir tidak
mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar
negeri sedang ada di jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi
pabrikku.
Kulihat Bunda sedang sibuk
mengemas pakaiannya di kamar.
“ Bunda, apa engga bisa
berangkatnya lusa aja”
kataku dengan lembut.
kataku dengan lembut.
“ Bunda engga mau ganggu
kamu, bunda bisa pergi sendiri kok, Antar saja Bunda ke Bandara ya “
kata bunda sambil memasukan pakaiannya kedalam koper,
kata bunda sambil memasukan pakaiannya kedalam koper,
“Baru minggu lalu bunda ke
Dokter dan sekarang masih harus istirahat.“
Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. “ Lusa aja, ya. Aku temanin. “
Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. “ Lusa aja, ya. Aku temanin. “
“ Tidak ! “
Mata Bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela nafas panjang,
Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata Bunda.
Mata Bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela nafas panjang,
Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata Bunda.
Istriku juga punya sifat
sama denganku untuk mengikuti kehendak bunda.“
"Baiklah, Kita pergi
sama sama."
Seperti biasanya pula Bunda
tersenyum cerah , dia memelukku.
Didalam pesawat aku menuju
kota kelahiran ayahku, Sumatera...
Lamunanku terbang kemasa
kanak kanaku. Dalam usia 5 tahun , aku sudah yatim.
Karena ayah meninggal
akibat sakit..
Menurut cerita Bunda ,
ketika Ayah meninggal status ayah masih mahasiswa di Yogya.
Bunda bukanlah dari
keluarga kaya.
Bunda juga seorang Yatim, Beda dengan Ayah yang terlahir dari keluarga Pajabat tinggi di sumatera.
Bunda juga seorang Yatim, Beda dengan Ayah yang terlahir dari keluarga Pajabat tinggi di sumatera.
Sehingga walau Ayah
berstatus mahasiswa namun kiriman uang dari orang tuanya masih cukup untuk
menanggung hidupnya berkeluarga.
Ayah sengaja merahasiakan
perkawinan itu kepada keluarga besarnya.
Namun dua tahun setelah
ayah meninggal , bunda datang kekeluarga ayah sambil membawaku.
Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun.
Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun.
Aku tidak begitu ingat
percis bagaimana suasana ketika bunda memperkenalkan dirinya sebagai menantu
dan aku sebagai cucu kepada kakek dan nenekku.
Yang aku tahu setiap tahun
bunda selalu membawaku kerumah Kakek dan nenek.
Setiap tahun , setiap
lebaran, bunda mengajaku pergi kerumah kakek dan nenek.
Dengan berlelah lelah naik
bus melewati pulau jawa dan sumatera untuk sampai.
Tak pernah aku antusias
datang ke rumah kekek dan nenek.
Sebagai anak kecil aku tahu
bahwa kakek nenek tidak pernah hangat dengan kehadiranku dan Bunda.
Beda sekali dengan
perlakuannya dengan saudara sepupuku yang lain.
Setiap lebaran, kulihat
para sepupuku datang dari jakarta, Bandung , Surabaya dengan pakaian bagus.
Beda sekali denganku. Bila
semua istri om sibuk berdandan dikamar atau bermalasan di taman belakang rumah
kakek yang luas itu, Bunda malah sibuk didapur memasak , seperti pembantu.
Ayahku adalah anak tertua
diantara empat bersaudara.
Semua saudara ayah laki
laki. Tidak ada perempuan.
Istri om semua memang
cantik cantik.
Menurut yang kutahu dari
Nenek, yang selalu diulang ulang dihadapan bunda, bahwa semua istri om dari
kalangan keluarga terhormat.
Seakan merendahkan
keberadaan Bunda. Tapi kulihat bunda tak pernah tersinggung.
Selama membesarkan ku,
bunda tak pernah mendapat bantuan satu senpun dari keluarga ayah. Juga bunda
tidak pernah memohon bantuan dari mereka.
Bunda bekerja keras
diperusahaan Swasta sebagai tenaga administrasi.
Bundapun tak pernah
terpikir untuk menikah kembali.
Ketika aku sudah remaja,
aku sudah bisa beralasan bila bunda mengajakku lebaran di rumah Kakek.
“Aku males kerumah kakek
dan nenek. Mereka engga sayang sama ku. Kenapa kita harus kerumah mereka? . “
Demikian alasanku. Tapi
bunda dengan segala sifatnya yang keras memaksaku untuk ikut.
Akupun tak berdaya.
Ketika aku tamat SMU, aku
tidak kuliah. Aku memilih bekerja di bengkel.
“Saya tak ada uang untuk
mengirim Ari ke universtas, Yah. “Demikian kata ibu kepada kekek ketika
menanyakan mengapa aku tidak kuliah.
Kakek dan nenek nampak
tersenyum sinis ketika mengetahui keadaanku.
Tahun tahun berikutnya
ketika lebaran. Kakek dengan kebanggaannya bercerita tetang sepupuku yang
berangkat keluar negeri untuk kuliah.
Ada juga yang masuk
perguruan tinggi swasta bergengsi di Jakarta.
Aku maklum karena om ku
semua mempunyai posisi sebagai pejabat, dan ada juga yang jadi pengusaha.
Aku dan bunda hanya diam
mendengar cerita itu. Tapi, tak pernah mengurangi niat bunda untuk datang
kerumah kakek dan nenek.
Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku. /
Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku. /
Yang pasti Biiznillah, izin
Allah ditambah kerja kerasku, aku bisa menanggung bunda dan bunda tak perlu
lagi berkerja keras.
Berjalannya waktu, yang
tadinya aku sebagai pekerja bengkel, akupun sudah bisa mandiri dengan membuka
usaha bengkel sendiri.
Lambat laun , aku mendapat
mitra untuk membuat komponen bodi kendaraan sebagai pemasok pabrikan otomotif.
Usaha ini kegeluti dengan
kerja keras siang malam dan akhirnya berkembang.
Ini semua tidak bisa
dilepaskan peran Bunda yang tak henti mendoakanku.Akupun dapat hidup mapan.
Namun, kewajiban setiap
lebaran datang berkunjung kerumah kakek nenek tetap saja dilakukan oleh bunda
dan aku harus ikut.
Tapi belakangan keluarga
yang berkumpul dirumah kakek dan nenek tidak lagi utuh.
Yang lain hanya menelphone
mengucapkan selamat lebaran kepada kakek dan nenek. Sepupukupun tak semua
datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran
via SMS atau telp. Tapi kakek dan nenek tetap bangga dengan mereka.
Aku tak pernah cerita
tentang keadaanku karena kakek dan nenek tak pernah bertanya tentangku.
Walaupun mereka tahu aku dan bunda tidak lagi datang dengan bus tapi
menggunakan pesawat terbang.
Tak terasa roda pesawat
sudah menyentuh landasan.
Kulihat bunda tersentak
dari tidur lelapnya.
Dia melirik kearahku dan
entah kenapa dia menciumku keningku.” Ada apa bunda ?“ tanyaku dengan tesenyum
“ Bunda ingat akan ayahmu.
“ Bunda nampak berlinang air mata.
Aku hanya diam “ Ayahmu
pria yang sangat baik. Sangat baik. Dia pria yang sholeh.
Ayahmu berencana bila dia
selesai kuliah dan dapat pekerjaan maka dia akan membawa bunda dan kamu ke
keluarga besarnya.
Bunda tahu kok, Ayahmu
dalam posisi lemah ketika melamar Bunda.
Disamping itu dia sadar
karena pilihannya kepada bunda membuat dia berbeda dengan ayahnya.
Ayahmu mencintai bunda
karna dia lebih mencintai Allah dari apapun.” Sambung Bunda.
“ Maksud bunda apa ?
“ Ayahmu memilih bunda
karena agama. Dia tidak melihat bunda karena kecantikan, karena keturunan orang
kaya, karena apa apa.
Dihadapan ayahmu , bunda
adalah muslimah yang baik , yang miskin.
Dan itu pasti akan
ditentang habis oleh keluarganya.”
Air mata bunda berlinang
dan akhirnya airmata itu jatuh membasahi pipinya. “
“ Kamu adalah putra ayahmu.
Anak yang berbakti, soleh dan pekerja keras.
Benarlah kalau niat baik
karena Allah maka yang akan datang juga kebaikan. “
Aku terdiam. Ada yang
mengganjal dalam pikiranku. Ini momen yang tepat untuk bertanya
“ Kenapa bunda selalu
menaruh hormat kepada kakek dan nenek.
Padahal mereka tidak peduli dengan kita.? “
Padahal mereka tidak peduli dengan kita.? “
Bunda menatapku dengan
tersenyum
“Ketika ayahmu pulang ke
Sumatera dalam keadaan sakit, dia berpesan kepada bunda , bila dia meninggal
agar bunda menjalin silahturahmi dengan keluarganya dan mendidik mu untuk dekat
kepada kedua orang tuanya.”
Bunda terdiam sebentar
sambil mengusap airmatanya. “ kamu tahu, Setelah ayahmu meninggal, butuh dua
tahun bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu.
Walau karena itu tidak ada
rasa hormat kepada bunda , dan bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak
diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi bunda ingat kata kata ayahmu
“cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia,
Ya kan, anakku.”
“cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia,
Ya kan, anakku.”
“ Ya , bunda. “ Terlontar begitu
saja dari mulutku.
Entah kenapa kedatangan ku
bersama Bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh kakek.
Dia peluk aku ketika sampai
di kamar nenek dirawat.
Yang datang menjenguk hanya aku dan Bunda.
Yang datang menjenguk hanya aku dan Bunda.
Sementara om dan sepupuku
tidak ada yang datang.
Kulihat nenek dalam keadaan
tertidur.
Dari kakek kutahu bahwa
nenek terkena stroke tapi keadaanya cepat tertolong.
Mungkin setelah itu nenek
akan lumpuh.
Kakek mengajaku keluar dari
ruangan. Kami bicara ditaman Rumah Sakit.
“ Dua tahun lalu Om-mu yang
pejabat di Jakarta, terkena kasus korupsi.
Dia dalam pemeriksaan oleh
aparat yang berwajib.
Sebelumnya Om-mu yang di
surabaya perusahaannya disita oleh bank karena bankrut.
Om kamu yang di Bandung
bercerai dengan istrinya karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK
sebagai PNS.
Semua anak anak Om kamu
tumbuh menjadi anak yang liar. Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam
pergaulan bebas.
Aku terkejut, Karena baru
kali ini aku tahu.
Mungkin karena hubunganku
dengan keluarga ayahku tidak begitu dekat maka tak banyak kutahu soal mereka.
“ Kakek tahu bahwa nenekmu
punya penyakit darah tinggi dan jantung.
Makanya kakek berusaha
menyimpan rapat rahasia tentang Om kamu yang tersangkut kasus karupsi,Tapi
kemarin , ada yang memberi tahu bahwa om kamu sudah di vonis penjara enam tahun
atas tindakan korupsinya’’.
Seketika itu pula nenekmu
jatuh pingsan...”
Aku hanya diam untuk
menjadi pendengar yang baik.
“ Ari, kami tahu bahwa
selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibu mu kurang baik.
Bahkan kami biarkan ibumu
menderita membesarkan kamu, membesarkan anak dari putra sulung kami, cucu
kami..
Kami menyesali sikap kami
selama ini. Belakangan ini , nenekmu selalu menyebut nama kamu...setiap dia
menyebut namamu , seketika itu juga dia menangis.
Kini dimasa tua kami, kami
resah karena tak tahu siapa yang bersedia mengurus kami.
Nenekmu mungkin setelah ini
akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah...”
Ku genggam tangan kakek.
“ Aku yang akan merawat
kakek dan nenek. Izinkan aku untuk membawa kakek dan nenek ke jakarta , tinggal
bersamaku. Beri kesempatanku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, ya kek? “
Seketika kakek memeluku
erat.
Terasa pundakku basah
dingin., Aku tahu kakek menangis.
" Harta yang ada juallah kek. Untuk bantu om dan adik adiknya.
Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk panti asuhan agar kakek punya bekal akhirat, ya kan kek." kataku.
" Harta yang ada juallah kek. Untuk bantu om dan adik adiknya.
Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk panti asuhan agar kakek punya bekal akhirat, ya kan kek." kataku.
Kakek semakin erat
pelukannya.
"Maha suci Allah, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami .."
"Maha suci Allah, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami .."
Aku menyadari, bertahun
tahun aku didik oleh bunda untuk memahami makna cinta.
Bahwa cinta adalah tindakan memberi karena Allah, bukan
mengharap balasan dr manusia.
Akupun harus memahami
hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk
berbakti kepada kakek dan nenek, orangtua ayahku.
Bunda nampak bahagia sekali
ketika melihatku mendorong korsi roda nenek menuju tangga pesawat dengan
disamping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. Kami semua ke Jakarta.
Ya Allah, jadikanlah kami
meninggal sebagai insan yang Engkau cintai..
####777777777777777777############
No comments:
Post a Comment